Menu
Pencarian


Bukan Cuma Bersih-Bersih! WCD Kota Batu Gebrak Sampah Visual, Pasar Among Tani Disulap Jadi Galeri Mural

JTV Malang - Jumat, 25 September 2026 18:33
Bukan Cuma Bersih-Bersih! WCD Kota Batu Gebrak Sampah Visual, Pasar Among Tani Disulap Jadi Galeri Mural
Wali Kota Batu Nurochman ikut membersihkan sampah di kawasan Pasar Induk Among Tani sekaligus melakukan penyemprotan cat perdana untuk pembuatan galeri mural dalam rangka World Cleanup Day 2026, Jumat (25/9/2026).

KOTA BATU - PortalJTV – World Cleanup Day (WCD) 2026 di Kota Batu tak berhenti pada aksi bersih-bersih sampah. Pemerintah Kota Batu membawa gerakan kebersihan ke level berbeda dengan membidik persoalan sampah visual sekaligus membuka ruang ekspresi seni bagi masyarakat.

Wali Kota Batu Nurochman turun langsung memimpin aksi tersebut bersama jajaran aparatur sipil negara (ASN) dan komunitas seniman di kawasan Pasar Induk Among Tani, Jumat (25/9/2026).

Rangkaian kegiatan diawali apel bersama seluruh ASN di halaman Balai Kota Among Tani. Mengenakan kaus hitam, Nurochman kemudian mengajak jajaran Pemkot Batu bergerak menuju Pasar Induk Among Tani untuk melakukan aksi bersih-bersih.

Pasar Induk Among Tani dipilih karena menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi masyarakat sekaligus bagian dari wajah Kota Batu. Kebersihan kawasan tersebut dinilai penting untuk menciptakan ruang publik yang lebih nyaman bagi pedagang maupun pengunjung.

Nurochman mengatakan, WCD tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial yang hanya ramai dalam satu hari. Momentum tersebut harus menjadi pemicu perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengurangi dan mengelola sampah secara berkelanjutan.

“World Cleanup Day bukan sekadar kegiatan bersih-bersih seremonial. Ini adalah momentum untuk mengubah kepedulian menjadi kebiasaan hidup sehari-hari,” tegas Nurochman.

Menurutnya, perubahan tersebut dapat dimulai dari hal sederhana. Masyarakat didorong mengurangi timbulan sampah, memilah sampah sejak dari sumbernya, mendaur ulang barang yang masih memiliki nilai guna, serta tidak membuang sampah sembarangan.

Pemkot Batu mencatat capaian pengurangan sampah pada 2025 mencapai 64,50 persen. Gerakan Batu Greenation pun terus didorong agar pengelolaan sampah dimulai dari lingkungan rumah tangga.

“Pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri. Pada Jumat dan Sabtu ini, lebih dari 10.000 relawan ikut bergerak. Ada kerja bakti, gotong royong, edukasi, kampanye, stasiun pengisian ulang (refill station), pembagian kompos gratis, dan berbagai aksi nyata lainnya,” jelasnya.

Nurochman juga meminta jajaran ASN Pemkot Batu menjadi contoh dalam menjaga kebersihan, tidak hanya di lingkungan kantor tetapi juga di rumah dan ruang publik.

“Jangan hanya ramai dalam satu hari, melainkan menjadi gerakan yang terus hidup setelah kegiatan ini selesai,” pintanya.

Namun, ada gebrakan lain yang membuat WCD Kota Batu kali ini berbeda. Setelah aksi bersih-bersih, Nurochman bersama komunitas seniman melanjutkan kegiatan dengan membuat mural di tembok pagar Pasar Induk Among Tani.

Tembok tersebut disiapkan sebagai ruang ekspresi sekaligus embrio galeri seni terbuka dengan tema kelestarian lingkungan. Konsep ini menjadi salah satu langkah Pemkot Batu untuk mengatasi persoalan sampah visual yang selama ini menghiasi ruang-ruang publik.

Nurochman mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, menyalurkan kreativitas di ruang yang telah disediakan pemerintah dan tidak melakukan vandalisme pada fasilitas umum.

“Jangan sembarangan mencorat-coret tembok di tempat umum. Tuangkan kreativitas di ruang-ruang publik yang telah disiapkan oleh pemerintah,” imbaunya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu Dian Fachroni mengatakan, penyediaan ruang kreatif menjadi bagian dari strategi Pemkot Batu menata sampah visual. Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan vandalisme, tetapi juga baliho dan spanduk kedaluwarsa serta berbagai atribut iklan yang terpasang tidak beraturan.

Pemkot Batu telah menetapkan delapan titik sebagai ruang kreatif. Salah satunya kawasan Pasar Rindu Among Tani di kompleks Pasar Induk Among Tani yang diarahkan menjadi ruang karya seni bertema lingkungan hidup.

“Delapan ruang kreatif telah ditetapkan, termasuk Pasar Induk Among Tani yang akan menjadi pusat karya seni bertema lingkungan,” terang Dian.

Meski menjadi ruang ekspresi, pengelolaan kawasan tersebut tetap berada dalam pengawasan Pemkot Batu karena menggunakan aset pemerintah daerah. Setiap karya yang dibuat harus dikoordinasikan dengan pemerintah, mulai dari tema hingga lokasi pengerjaan.

“Pengawasan tetap dilakukan, terutama pada aset pemerintah. Kolaborasi diperlukan untuk menentukan keselarasan tema dan lokasi karya,” katanya.

Untuk mendukung ekosistem tersebut, Pemkot Batu juga memberikan stimulan kepada seniman yang terlibat, mulai dari penyediaan cat dan media berkarya hingga fasilitasi operasional selama proses pembuatan mural.

Para seniman yang dilibatkan berasal dari ekosistem ekonomi kreatif, khususnya subsektor seni rupa dan desain. DLH bersama Komite Ekonomi Kreatif juga masih melakukan inventarisasi komunitas kreatif untuk memperluas keterlibatan pelaku seni di Kota Batu.

Melalui konsep ini, WCD Kota Batu tidak hanya menyasar sampah fisik. Gerakan tersebut sekaligus diarahkan untuk menata wajah kota, mengurangi sampah visual, dan menghadirkan ruang publik yang bisa menjadi tempat masyarakat menyalurkan kreativitas secara positif.

Dari sampah menuju karya. Dari tembok kosong menjadi galeri. Kota Batu mencoba mengubah persoalan kebersihan sekaligus sampah visual menjadi gerakan lingkungan yang berpadu dengan kreativitas. (Rafli)

Editor : JTV Malang





Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.